|
Kegiatan Dinas Perindagkop dan UMKM
Disperindagkop Gandeng Gelar FGD
Dinas Perindagkop dan UMKM Kabupaten Katingan menggandeng sejumlah NGO, seperti WWF Indonesia Kalimantan Tengah, Yayasan Teropong dan Kelompok Kerja Sistem Hutan Kerakyatan (POKKER-SHK) menggelar kegiatan Studi Pendahuluan melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) Program pengenalan pasar dan industri rotan Katingan.
Kegiatan yang berlangsung, Jum’at (14/10) kemarin, di Aula Bappeda dan PM Kabupaten Katingan ini dibuka oleh Bupati Katingan yang diwakili oleh Kadis Perindagkop dan UMKM Katingan, Punding Timbung, SE.
Punding, menyebutkan, program ini mempunyai Visi untuk mendukung pengembangan sumberdaya rotan berkelanjutan serta turut memberikan kontribusi bagi upaya perlindungan hutan, meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mendukung dilaksanakannya pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Katingan.
Dikatakannya, secara administratif wilayah Kabupaten Katingan terdiri dari 13 Kecamatan dengan jumlah desa sebanyak 145 desa, dengan 7 kelurahan, dan jumlah penduduk mencapai 131.049 jiwa atau 32.997 kepala keluarga (KK).
“ Pemerintah Kabupaten Katingan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengembangan potensi–potensi kekayaan alam yang dimiliki, salah satunya menyentuh kehidupan masyarakat petani dan pemilik kebun rotan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, “ ujarnya.
Menurutnya, usaha rotan yang dilakukan masyarakat Katingan sejak turun temurun melalui budidaya rotan sebagai sumber mata pencaharian selain pekerjaan pokok sebagai petani peladang, sehingga hampir 51 persen (12.746 KK), atau seluas kurang lebih 325 .000 hektar, wilayah Katingan terdiri dari kebun rotan yang tersebar di 10 kecamatan dengan jenis rotan Irit dan Taman.
“ Kabupaten Katingan sebagai salah satu sentra produksi rotan dan penghasil rotan terbesar di Kalimantan Tengah, dengan produksi mencapai 600 hingga 800 ton/bulan, “ sebutnya.
Namun diakuinya, usaha masyarakat sebagai petani rotan mulai menurun dengan semakin tidak stabilnya harga rotan ditingkat petani sebagai akibat adanya larangan ekspor rotan keluar negeri dan permainan para tengkulak ditingkat pasar lokal.
Sementara Konsultan ahli Program Rotan WWF, Ir Lisman Sumardjani, dalam paparannya mengatakan, komoditi rotan Katingan saat ini belum bisa dikembangkan karena beberapa faktor diantaranya, belum terinventarisir dan terpetakannya luasan potensi tanaman rotan baik yang berada ditanah milik masyarakat/petani maupun yang tumbuh pada hutan alam secara akurat.
Kemudian terbatasnya sumberdaya manusia (SDM) yang menguasai keterampilan dan pengetahuan dibidang industri rotan serta belum jelasnya pemasaran rotan ditingkat petani akibat ulah permainan harga oleh tengkulak.
|